Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

Tradisi Ela-Ela di Ternate: Perayaan Malam Lailatulqadar dengan Cahaya Obor

Kamis | Maret 27, 2025 WIB Last Updated 2025-03-27T02:51:54Z
iklan
TERNATE, DETIKMALUT.com - Malam Lailatulqadar menjadi salah satu momen paling sakral di bulan Ramadan bagi umat Muslim di Kota Ternate. Dalam rangka menyambut malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan ini, masyarakat Ternate dan Maluku Utara menggelar tradisi menyalakan obor atau yang dikenal sebagai ela-ela.

Tradisi ini dipusatkan di Kedaton Kesultanan Ternate dan dihadiri oleh Sultan Ternate, Hidayatullah Mudaffar Sjah, Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, Wakil Wali Kota Nasri Abubakar, serta Sekretaris Daerah Rizal Marsaoly. Acara diawali dengan penyalaan obor induk oleh Sultan Ternate yang didampingi Wali Kota, diikuti oleh masyarakat yang menyalakan obor di berbagai penjuru kota.

Wali Kota Tauhid Soleman menyatakan bahwa tradisi ela-ela telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam syiar agama serta pelestarian budaya. "Setiap tahun, perayaan ini dipusatkan di Kedaton Kesultanan Ternate untuk menyambut malam Lailatulqadar. Tradisi ini akan terus dilestarikan, tidak hanya sebagai bagian dari syiar Islam tetapi juga untuk memperkuat spiritual tourism," ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Kebudayaan juga menyelenggarakan Festival Ela-Ela yang melibatkan enam kelurahan, yakni Soasio, Ngidi, Tobenga, Lingkungan Kubur Islam, Mangga Dua, dan Jambula. Kepala Dinas Kebudayaan, Muslim Gani, menyebutkan bahwa festival ini bertujuan untuk menjaga warisan budaya dan memperkenalkan tradisi ela-ela kepada generasi muda.

"Pemkot berencana mengusulkan tradisi ela-ela sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2026," tambahnya.

Sementara itu, Jo Hukum Soasio Kesultanan Ternate, Gunawan Yusuf Radjim, menjelaskan bahwa penyalaan obor pada malam 27 Ramadan memiliki filosofi mendalam. Ia menggambarkan bahwa malam tersebut melambangkan keberkahan dan rahmat, serta mengingatkan pada proses penciptaan manusia.

"Puasa sendiri adalah proses yang mengajarkan kita tentang perjalanan hidup. Pada malam ela-ela, masyarakat Ternate menyalakan obor dengan sukacita sebagai simbol penerangan dan harapan," jelasnya.

Selain menyalakan obor, masyarakat juga menjalankan tradisi guto, di mana buah-buahan dan batang pohon pisang yang dibakar menggunakan damar menjadi bagian dari ritual. Tradisi ini, menurut Gunawan, dahulu dilakukan oleh pemangku agama yang kemudian membawa buah-buahan sebagai oleh-oleh.

Setelah Salat Magrib, Kedaton Kesultanan Ternate dipenuhi cahaya obor yang menerangi malam, menciptakan suasana yang khidmat dan penuh kegembiraan. Dengan adanya upaya pelestarian dari pemerintah dan kesultanan, tradisi ela-ela diharapkan terus menjadi bagian dari identitas budaya Ternate dan Maluku Utara.***
×
Berita Terbaru Update